
Acara Adat Sedekah Desa memang sudah turun-temurun di lakukan setiap tahun di desa Mojo. Sedekah Desa merupakan adat budaya warisan dari nenek moyang atau leluhur Desa Mojo. Sedekah Desa biasa di sebut juga dengan Ruwatan Desa, Desa nya di ruwat [di selameti] biar selamat. Sudah di sebut Desa berarti beserta isinya, berikut penduduknya, alam nya, ternaknya dan tumbuh-tumbuhan nya. semua yang ada dan tumbuh di dalam Desa.
Sedekah Desa Mojo di lakukan di bulan syuro [asy-syuro], Sedekah sendiri di lakukan untuk tujuan keselamatan Desa juga sebagai bentuk ucapan rasa syukur penduduk Desa Mojo kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rezeki yang sudah di berikan terhadap seluruh penduduk Desa Mojo tanpa terkecuali. Di berikan tanah yang subur, sehingga bisa bercocok tanam dengan baik, hasilnya bisa di jadikan bahan pangan sehari-hari bahkan lebih-lebih bisa di jual membantu perekonomian penduduk Desa Mojo sendiri.
Di berikan sumber-sumber air yang jernih, sebagai sumber kehidupan Penduduk Desa Mojo sendiri, di berikan kesehatan pada ternak-ternak nya sehingga dapat ber anak-pinak dengan sempurna. Sedekah Desa memang acara yang selalu di nanti-nanti oleh seluruh Penduduk Desa Mojo, tanpa terkecuali. Banyak rangkaian kegiatan dalam acara Sedekah Desa sendiri, mulai dari mengaji menghatamkan 30 jus, kemudian kenduri atau kalau dalam bahasa jawa [kenduren], lalu ruwatan yang di pimpin oleh sesepuh Desa dengan doa bersama dll.
Dalam Sedekah seluruh Perangkat Desa di anjurkan mengumpulkan hasil bumi yang ada di Desa Mojo sendiri, mulai dari Air 7 sumber, Kolo pendem [tanaman yang tumbuh di dalam tanah] kolo gemantung [tanaman yang tumbuh di atas pohon bergantungan] dll. Semua itu kembali seperti tujuan awal yaitu mengucap rasa syukur atas bahan pangan yang melimpah.
Adat di Desa Mojo ketika sedekah desa masing-masing dari warga Desa Mojo membuat tape [makanan yang terbuat dari beras ketan yang di fermentasi] dan tetel sebagai pasangan nya, sedekah desa tidak afdal kalau tidak membuat tape dan tetel. Itu juga merupakan warisan turun-temurun nenek moyang. Itulah khas dari Sedekah desa Mojo.
Dalam melakukan Ruwatan Desa di lakukan dengan menggunakan wayang, seperti zaman para wali yang mendakwah kan islam menggunakan media wayang, selain bisa di jadikan hiburan juga terkandung ajaran yang mudah di terima oleh kaum-kaum awam. Dalang tersebut mulai berperan sebagai para tokoh-tokoh perwayangan dan menyampaikan pesan-pesan moral untuk seluruh warga Desa Mojo.
Ketika ruwatan berlangsung Kepala Desa dan Seluruh Perangkat Desa harus berada di sisi wayang menerima dan mendengarkan kajian serta doa-doa yang sesepuh Desa lantunkan. Pemerintahan Desa Mojo di doakan agar di beri kemudahan dan keberkahan dalam mengemban tugas-tugas Negara, mengayomi masyarakat Desa Mojo.
Sedekah Desa biasanya tak kalah meriah dengan hari Lebaran, karena antusias warga dan mungkin sedikit banyak menyenggol ke adat istiadat lagi, hampir keseluruhan warga Desa Mojo memasak berbagai macam makanan untuk di hantar-hantar kan ke sanak suadaranya. Bahkan ada yang dengan senang hati mengundang keluarga jauh, teman-teman nya untuk datang mencicipi hidangan yang sudah di siapkan di acara Sedekah desa tersebut.
Itulah serba-serbi dan meriahnya Sedekah Desa Mojo, selain untuk selamatan dan syukuran, mungkin juga di gunakan kesempatan untuk berkumpul dengan orang-orang terdekat dan terkasih, tidak harus menunggu hari Raya saja. Semoga bacaan ini bisa memberikan manfaat untuk para pembaca.